"Selamat sejahtera semoga keselamatan dan keberkahan dilimpahkan kepada anda"

Jumat, 06 April 2012

KESADARAN


Assalamu`alaikum Wr Wb

Manusia sering di ombang-ambingkan perasaan
Terutama soal senang dan susah
Mencari hiburan untuk kesenangan adalah hal biasa
Dan selalu ingin di ulang-ulang kesenangan tersebut

Kecenderungan untuk menghindari kesedihan adalah dianggap lumrah dan manusiawi
Karena kedukaan dan kesedihan itu tidak mengenakkan kita

Kita juga sering lupa
Bahwa Allah Swt selalu memberikan gemblengan hidup
Agar kita bisa lebih maju
Juga mapan dalam menghadapi hidup

Duka dan sedih hati
Timbul dari fikiran yang penuh dengan perasaan iba diri (selfpity)

Fikiran mengenang masa lalu yang penuh dengan kegagalan
Membayangkan masa depan yang penuh kesuraman

Maka fikiran atau ego kita
Merasa iba kepada diri sendiri
Merasa nelangsa dan sengsara

Maka datanglah rasa duka

Duka menghilangkan kewaspadaan
Melenyapkan arti hidup

Padahal…
Hidup bukanlah untuk sekedar membiarkan diri diseret kedalam lamunan
Dan membiarkan diri dipermainkan oleh fikiran !

Hidup adalah kenyataan apa yang ada

Tidak peduli
Kenyataan itu menyenangkan atau menyusahkan

Yang senang atau susah adalah permainan fikiran
Yang senang atau susah adalah ego
Ego yang selalu menghendaki keenakan
Dan menghindari ketidak-enakan

Kenyataan hidup adalah seperti apa adanya


Dan
Menerima kenyataan apa adanya

Adalah seni yang paling indah,
Paling agung,
dan paling murni dari kehidupan.

menerima kenyataan seperti apa adanya,
tanpa menilai !
tanpa mengeluh !
melainkan menyerahkan kepada Allah Swt
Allah Maha Bijaksana
Allah Maha Kasih

Hanya Allah Swt yang mampu membimbing kita
Lahir maupun batin

Allah Swt berfirman didalam QS.Al-Baqarah(2):277,
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman,
Mengerjakan amal sholeh,
Mendirikan shalat,
Dan menunaikan zakat,
Mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya.
Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka
Dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”

Kewajiban kita didalam hidup adalah untuk beribadah
Mempergunakan segala alat yang ada pada tubuh,
Dengan sebagaimana mestinya
Yaitu sebagai sarana ibadah

Panca indera, untuk bekerja seperti yang telah ditentukan dalam tugasnya masing-masing

Termasuk fikiran,
Yang sesungguhnya merupakan alat untuk berfikir, untuk bekerja,
Untuk dapat melakukan sesuatu yang bermanfaat
Baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain

Semua dilakukan semata-mata karena Allah Swt

Allah Swt berfirman,
“Dan Aku tidak menciptakan Jin dan Manusia
Melainkan supaya mereka menyembah-Ku”
QS.Adz-Dzariyat(51):56

Fikiran bukan alat untuk menyeret kita-
Kedalam lamunan kosong tentang suka duka

Kita tidak mungkin dapat membersihkan fikiran
yang bergelimang dengan daya-daya rendah
Fikiran yang penuh nafsu
Fikiran yang penuh dengan keinginan untuk mengejar enak sendiri
Tidak mungkin !

Selama kita, yang ingin membersihkan ini juga adalah fikiran itu sendiri

Dan selalu…
Keinginan fikiran
Hanya bersumber pada satu pamrih
Yaitu mengejar keenakan untuk diri sendiri

Dapat saja
fikiran menciptakan akal bermacam-macam hal

Seperti sebutan bertapa, mengasingkan diri, mengheningkan cipta,
Dan berbagai macam cara lagi untuk membersihkan batin

Termasuk misalnya Shalat kita.
Dibawa kemanakah Shalat kita ?

Didalam Shalat kita berikrar,
Bahwa Shalatku,
Hidupku,
Matiku,
Hanya untuk Allah Swt,

Apakah kita sudah benar-benar demikian ?

Niat awal Shalatpun adalah karena Allah
Bukan karena kesenangan yang lain
Seperti Surga,Pahala,dsb.

Namun semua itu adalah pekerjaan fikiran
Pekerjaan si Ego
Usaha dari nafsu pula
Karena fikiran itu sendiri bergelimang nafsu
Dikemudikan oleh nafsu.

Dibalik semua usaha itu
Terkandung suatu pamrih
Yaitu sifat dari nafsu
Ialah untuk mengejar keenakan bagi diri sendiri !

Karena itu..
Apakah mungkin kita bisa membersihkan fikiran
Apakah mungkin nafsu mengendalikan nafsu
Apakah mungkin nafsu mengalahkan nafsu ?

Kita harus bisa melihat  secara bijaksana
Apakah ini hanya akal-akalan saja ?
Akalnya si Akal fikir !

Satu-satunya kenyataan adalah
Bahwa Yang dapat membersihkan jiwa dari cengkeraman nafsu,
Yang dapat menempatkan semua alat tubuh luar dalam-
kepada kedudukan dan tugas mereka masing-masing secara utuh dan benar

hanyalah kekuasaan Allah Swt !

didalam QS.Yusuf 53,
“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan),
Karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan,
Kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.
Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Di ayat lain QS.Shaad 26,
“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikanmu khalifah di bumi
Maka berilah keputusan (perkara) diantara manusia dengan adil
Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu,
Karena ia akan menyesatkanmu dari jalan Allah.
Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah
Akan mendapat azab yang berat,
Karena mereka melupakan hari perhitungan.”

Dan
Kekuasaan Allah Swt
Akan bekerja
Kalau Ego dan akal fikiran kita yang dipenuhi oleh nafsu itu
Temporary ShutDown
Atau sementara tidak difungsikan

Kekuasaan Allah Swt akan bekerja
Kalau kita menyerah kepada-Nya

Menyerah dengan penuh ketawakalan, kepasrahan dan keikhlasan
Menyerah dengan kesabaran.

Kehendak Allah pun jadilah !

Itulah satu-satunya kenyataan yang mutlak

Dalam kepasrahan lahir batin ini
Kita akan menerima semua kenyataan hidup-
Sebagai kehendak Allah Swt.

Dan karenanya..
Kita menghadapinya tanpa keluhan,
Tanpa celaan,

Tetapi bukan berarti kita lalu acuh tak acuh dan mandeg.
Sama sekali tidak !

Kita pergunakan alat tubuh luar dalam untuk berusaha !
Allah Swt yang akan memberikan bimbingan dan tuntunan

Kalau sudah begini..

Apapun yang terjadi,
Tidak menimbulkan penasaran atau keluhan,
Apalagi duka atau sedih hati.

Yang ada tinggal ingat dan waspada

Ingat kepada Allah Swt
Dan kekuasaan-Nya yang mutlak, menyerah,

Dan waspada
Terhadap setiap gerak dan langkah kita dalam hidup,

Waspada terhadap fikiran kita,
Terhadap ucapan kita,
Terhadap perbuatan kita,

Seperti kewaspadaan seorang yang memegang kemudi kendaraan.

Allah Swt Maha Adil dan Kasih. J



PENILAIAN

Penilaian
dalam bentuk apapun juga
Tentu dipengaruhi suka dan tidak suka dari si penilai

Dan peranan suka atau tidak suka ini
Timbul dari perhitungan untung dan rugi

Kalau si penilai merasa dirugikan
Lahir maupun batin
Oleh yang dinilainya
Maka perasaan tidak suka karena dirugikan ini-
yang menentukan penilaiannya
Tentu saja hasil penilaiannya adalah buruk

Sebaliknya,
Kalau merasa diuntungkan
Lahir maupun batin
Timbul perasaan suka
Dan hasil penilaiannya tentu baik
Penilaian
Menimbulkan dua sifat atau keadaan yang berlawanan
Yaitu baik atau buruk

Tentu saja baik atau buruk ini
Bukan sifat asli dari yang dinilai
Melainkan timbul karena keadaan hati si penilai sendiri.



PENONJOLAN DIRI

Penonjolan diri
Merupakan gejala yang nampak dalam kehidupan kita pada umumnya

Penonjolan diri bersemi karena keadaan
Karena cara hidup masyarakat kita

Semenjak kecil kita dijejali nilai-nilai
Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar kelas Satu
Bahkan sejak kelas nol

Di Sekolah ada system nilai dalam bentuk angka
Di Rumah ada pujian-pujian dan celaan-celaan
Bagi yang dianggap baik dan buruk

Di dalam pergaulan pun ada nilai-nilai yang menentukan kedudukan  seseorang
Dalam olahraga timbul juara-juara

Kita hidup menjadi budak-budak setia dari nilai-nilai
Kita hidup mengejar nilai-nilai

Sehingga dalam olahraga sekalipun,
Yang dipentingkan adalah pengejaran nilai,
Bukan manfaat olahraganya itu sendiri bagi kesehatan tubuh.
Bahkan,
Demi mengejar nilai,
Kita lupa diri,
Dan olahraga bukan bermanfaat lagi bagi tubuh,
Bahkan ada kalanya merusak,
Karena tubuh diforsir terlalu keras,
Karena untuk mengejar nilai.

Karena sejak kecil
Hidup didalam masyarakat yang tergila-gila oleh nilai (tanpa disadari)

Maka agaknya sudah kita anggap wajar
Kalau kita selalu berusaha untuk menonjolkan diri.

Kalau tidak menonjol-
Kita akan merasa rendah diri,
Merasa hampa dan hina,
Merasa bodoh dan tidak diperhatikan.

Karena sejak kecil sekali
Kita diperkenalkan dengan pujian dan celaan,

Maka sejak kecil sekali pula
Kita berusaha untuk menonjolkan diri,
Untuk menarik perhatian orang-orang lain,
Hanya karena kita sudah haus akan nilai,
Haus akan pujian.

Dan..
Kalau diri sendiri sudah tidak lagi memungkinkan adanya penonjolan diri,
Untuk menimbulkan penghargaan dari orang lain,
Atau pujian,
Atau kekaguman,

Maka..
Kita lalu membonceng kepada kepintaran anak kita,
Atau teman segolongan kita,
Atau leluhur kita,
Suku atau bangsa kita,
Agama kita,

Bahkan banyak kita lihat..
Penonjolan diri seseorang-
Membonceng kepada peliharaannya,
Seperti burung perkututnya,
Atau mobilnya,
Atau bahkan membonceng kepada Senjata Pusaka,
Atau batu cincin istimewa yang tidak dimiliki orang lain,

Kalau misalnya wajah kita tidak dapat dibanggakan
Kita membanggakan perhiasan-perhiasan yang menempel di tubuh kita
Seperti baju bagus,
Emas permata,dsb..

Semua itu..
Akan nampak jelas
Kalau kita mau membuka mata
Mengamati keadaan diri sendiri
Lahir maupun batin
Dan mengamati
Keadaan sekeliling kita.

Berfikirlah !                                                                       Wassalamu`alaikum !          

sumber : Kang Dicky Zaenal Arifin

Article :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa komentar dan pendapat anda? Adakah saran untuk admin?

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Comment Facebook

Get This Gadget

Popular Posts

Ready 3 Data AON

Followers