"Selamat sejahtera semoga keselamatan dan keberkahan dilimpahkan kepada anda"

Jumat, 06 April 2012

KESETIAAN CINTA


Dengan asma Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah SWT pemilik dan pencipta alam semesta yang selalu melimpahkan rahmat dan nikmat-Nya kepada seluruh makluh yang berada di bumi dan langit maupun di antara keduanya. Shalawat dan salam semoga selalu dilimpahkan kepada nabi muhammad saw dan seluruh keluarganya. Sahabat-sahabatnya dan seluruh umatnya yang selalu menyampaikan risalahnya sampai akhir zaman.

Marilah kita memulai membaca tulisan ini dengan mengucapkan salam terindah yang pernah ada, salam penghormatan Islam, salam penghormatan dari Allah SWT, salam yang sangat baik dan diberkahi: Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

True love never grows old.
Old love does not rust.
Cinta sejati tidak akan pernah tua.
Cinta lama tidak akan berkarat.
(pepatah)

cinta sejati adalah cinta karena ilahi. Tulus ikhlas, tanpa pamrih dan tak lekang dimakan zaman dan ditempa cuaca. Cinta sejati juga tahan uji, tetap akan terkenang meski jasad tercerai dari rohnya. Banyak kisah-kisah mengharukan dari pasangan yang saling mencintai untuk kita renungi, bahwa cinta itu meminta pengorbanan, kesetian dan kesabaran. Jangan mengaku cinta dan mengungkapkan cinta kalau nggak mau berkorban.

“Anda dapat memberi tanpa mencintai, tapi anda tidak dapat mencintai tanpa memberi”

salah satu orang yang sangat setia pada cinta adalah putri Rasulullah Muhammad SAW yang bernama Zainab al-Kubra. Pada saat belum turun larangan menikah dengan pria non muslim, Zainab al-Kubra menikah dengan pemuda non muslim bernama Abil Ash Ibnur Rabi'. Ketika pernikahan berlangsungh ibunda Zainab al-Kubra, khadijah, memberi seuntai kalung. Dari pernikahannya mereka dikarunia dua orang anak, Ali dan Umamah.

Sayang, ktika Zainab al-Kubra bercerita tentang kerasulan ayahnya, Abil Ash Ibnur Rabi' tak bergeming, tetap pada kemusyrikannya. Namun Zainab al-Kubra tidak menyerah ia terus mengajak suaminya untuk beriman mengikuti jejak khadijah, Abu Bakar, Utsman bin Affan, Ali bin Abu Thalib dan Zubair bin Awwan. Tapi yang didapat Zainab al-Kubra adalah jawaban yang menyakitkan, “demi Allah, ayahmu bukanlah seorang tertuduh, tetapi aku tidak ingin dikatakan bahwa aku telah meninggalkan kaumku, dan menjadi kafir mengingkari agama bapak-bapakku hanya demi menyenangkan istriku”

Ujian terhadap keimanan dan kesetiaan cinta Zainab al-Kubra pun datang menjelang. Ketika Rasulullah Muhammad SAW. Dan kaum muslimin diperintahkan berhijrah ke madinah, abil ash ibnur rabi’ menolak ajakan zainab alkubra. Akhirnya zainab terpaksa tinggal di mekkah melepas kepergian ayahnya dan kaum muslimin.

Nggak Cuma itu, ujian berat kembali menguji iman dan cinta Zainab al-Kubra. Kali ini, ketika perang badar meletus. Zainab al-Kubra menyaksikan ayah dan suaminya berada di pihak yang berlawanan. Ia gembira ketika mendengar kaum muslimin mendapat kemenangan, sekaligus bersedih memikirkan nasib suaminya. Kemudian, sampaikanlah kabar kepadanya bahwa suaminya masih hidup dan menjadi tawanan perang kaum muslimin. Untuk menbebaskan suaminya, Zainab al-Kubra menyuruh amr bin rabi’ saudaranya untuk menbawa kalung hadiah dari ibundanya sebagai penebus.

Rasulullah Muhammad SAW yang menerima kalung hadiah pernikahan Zainab al-Kubra sebagai tebusan itu menangis. Dengan suara berat karena kesedihan ia berkata kepada para sahabatnya, “jika kalian tidak keberatan melepaskan tawanan itu dan mengembalikan tebusannya, maka aku akan melakukannya.” Para sahabat pun melepaskan Abil Ash Ibnur Rabi'.

Mendengar pembebasan suaminya, Zainab al-Kubra bergembira. Saya Abil Ash Ibnur Rabi' tetap pada pendiriannya, bertahan pada kemusyrikannya. Tapi Zainab al-Kubra tak surut mengajaknya beriman. Sampai akhirnya Allah menguji keimanan Zainab al-Kubra dengan menurunkan larangan bagi seorang mukminah bersuami non muslim. Ayahnya langsung memerintahkan Zainab al-Kubra untuk bercerai dari suaminya. Sebagai seorang wanita yang beriman, Zainab al-Kubra pun mematuhi perintah Allah. Ia bercerai dan pergi ke madinah meninggalkan pria yang dicintainya dan kedua anaknya.

Suatu ketika Abil Ash Ibnur Rabi' dikejar-kejar pasukan kaum muslimin hingga akhirnya masuk ke dalam kota madinah dan bersembunyi di rumah Zainab al-Kubra. Melihat pria yang dicintainya dalam bahaya, Zainab al-Kubra menberinya perlindungan. Ketika Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabat berada di masjid Zainab al-Kubra berseru, “hai kaum muslimin, aku telah melindungi Abil Ash Ibnur Rabi'.” Mendengar seruan itu Rasulullah Muhammad SAW menjawab, “kami telah melindungi orang yang telah dilindungi.”

Rasulullah Muhammad SAW keluar dari masjid dan menuju rumah Zainab al-Kubra menemui Abil Ash Ibnur Rabi', berkatalah Zainab al-Kubra kepada ayahnya, “wahai Rasulullah, sesungguhnya jika Abil Ash Ibnur Rabi' ini dianggap keluarga dekat, ia masih putera paman, jika dianggap jauh, ia adalah ayah dari anakku dan aku telah melindunginya.”

Rasulullah Muhammad SAW keluar dari rumah Zainab al-Kubra dan mendatangi pasukan kaum muslimin dan berkata, “sesungguhnya Abil Ash Ibnur Rabi' adalah keluarga kami, sebagaimana kalian ketahui, kalian telah mendapatkan hartanya. Jika kalian berbuat baik dan mengembalikan harta itu, aku lebih menyukainya, jika kalian menolak, maka itu adalah harta fa’i (rampasan perang) yang dianugerahkan Allah kepada kalian, dan kalian lebih berhak atas harta itu.” Pasukan muslim dengan ikhlas mengembalikan harta abul ash ibnur rabi’.

Bukan Cuma harta Abil Ash Ibnur Rabi' yang kembali, tapi jiwa abul ash ibnur rabi’ terselamatkan. Tidak lain berkat kesetian dan keteguhan cinta Zainab al-Kubra. Akhirnya keluarga yang pernah terpisah selama enan tahun itu kembali utuh setelah abdul ash ibnur rabi’ memeluk Islam. Mereka berkumpul kembali bersama dengan anak-anak mereka.

Kisah kesetian cinta lain terjadi pada masa khalifah Mu'awiyyah bin Abu Sufyan. Pada masa itu ada seorang wanita cantik bernama su’da. Ia sudah bersuami namun suatu ketika suaminya jatuh miskin. Sau’da pun direbut kembali oleh orangtuanya yang tidak sudi dengan kemiskinan suaminya. Marwan Ibnu Hakam, gubernur madinah yang mengetahui kecantikan wanita itu lantas merebutnya dari suaminya, memaksanya untuk menceraikannya dan menikahinya.

Diriwayatkan bahwa suaminya mengadu kemudian pada Mu'awiyyah bin Abu Sufyan ihwal perbuatan gubernurnya itu. Mendengar kabar itu Mu'awiyyah bin Abu Sufyan murka, ia pun menyuruh orang untuk menbawa surat kepada Marwan Ibnu Hakam, surat itu berbunyi,

“telah sampai kepadaku bahwasanya engkau telah melampaui batas terhadap rakyatmu dan merongrong sebagian kehormatan kaum muslimin. Engkau juga telah melampaui batas yang ditetapkan agama. Seyogyanya seorang gubernur menahan pandangnya dari nafsu syahwatnya dan mencegah dirinya dan kelezatan-kelezatan hawa nafsunya.”

Kemudian Mu'awiyyah bin Abu Sufyan melanjutkan:
“alangkah celaka kamu, seandainya ada perkara yang tidak kamu ketahui. Maka mohonlah ampun atas perbuatan para pezina.
Si pemuda malang datang kepada kami mengharap pertolongan, mengadukan tentang kesedihan dan duka yang teramat dalam.
Aku bersumpah kepada Tuhan dan aku tidak akan melanggar sumpahku.
Sungguh, selamatkan dirimu dari ancaman dan pembalasanku
Jika kamu menyalahi perintah yang kutuliskan ini akan aku jadikan dirimu daging di atas panggang api.
Ceraikanlah Su'da dan serahkan ia segera-
Kepada al-Kamit dan Nadlr bin Dzaibar.”

Mu'awiyyah bin Abu Sufyan melipat surat itu dan membubuhkan stempel khalifah. Sesaat kemudian ia memanggil al-Kamit dan Nadr bin Dzaiban, menyuruh mereka berdua menyampaikan amanatnya.

Di madinah, Marwan Ibnu Hakam yang menerima surat itu membacanya dan menangis. Ia pun menceraikan Su'da dan menyerahkannya pada al-Kamit dan Nadr bin Dzaiban. Lalu ia menulis surat jawaban untuk Mu'awiyyah bin Abu Sufyan yang bunyinya:

“jangan terburu-buru menilai wahai Amirul Mukminin.
Sungguh aku telah memenuhi janji ancamanmu dengan tulus dan baik.
Tidaklah aku mendatangi barang haram yang menggagumkan diriku.
Lalu mengapa engkau tuduh diriku sebagai pengkhianat-pezina.
Sabarlah! Sesungguhnya jika engkau melihatnya.
Niscaya angan-anganmu mengalir pada sebuah patung manusia.
Akan datang kepada tuan, matahari yang tidak ada menandinginya.
Dihadapan khalifah, baik golongan jin maupun manusia.

Ia membubuhkan cap kegubernurannya dan menyerahkan pada pembantu Mu'awiyyah bin Abu Sufyan.

Ketika rombongan sampai di istana, Mu'awiyyah bin Abu Sufyan membaca surat Marwan Ibnu Hakam dan penasaran dengan wanita bernama su’da yang telah direbut marwan dari suaminya. Ketika melihatnya Mu'awiyyah bin Abu Sufyan terkejut. Ia terpikat dengan kecantikan, kemolekan, keluguan dan keindahan perawakan wanita tersebut. Seketika ia jatuh cinta dan melamarnya tapi wanita itu menjawab dengan halus, “aku ingin menemui suamiku.”

Ketika pria itu dibawa ke hadapan, Mu'awiyyah bin Abu Sufyan langsung berbicara kepadanya, “wahai orang arab, apakah kamu masih mencintai Su'da? Aku menawarkan padamu tiga orang dayang istana yang masih perawan sebagai ganti istrimu, setiap dayang kuberi seribu dinar, dan aku akan memberimu uang yang cukup untuk hidup bersama ketiga dayang itu dari baitul mal setiap tahunnya.”

Mendengar ucapan Mu'awiyyah bin Abu Sufyan, pria itu seketika jatuh pinsan. “ada apa dengan dirimu?” tanya Mu'awiyyah bin Abu Sufyan.

“sangat marah dan sedih. Aku datang untuk meminta perlindunganmu dari kezhaliman Marwan Ibnu Hakam. Lalu kepada siapa aku meminta perlindungan dari kezhalimanmu?” jawab orang itu mengiba.

Kemudian ia berkata, “demi Allah, wahai amirul mukminin, seandainya engkau beri aku kursi kekhalifahan dengan segala isinya, itu tidak ada nilainya bila dibandingkan dengan Su'da.”

Mu'awiyyah bin Abu Sufyan yang takjub dengan kesetian pria ini lantas bertanya kepada Su'da, “mana yang engkau pilih: aku amirul muminin yang diliputi limpahan kemulian, kekuasaan dan istana; atau Marwan Ibnu Hakam yang berbalutkan sifat kejam dan zalim; atau lelaki arab yang tenggelam dalam kefakiran, kelaparan dan kesengsaraan ini?”

Su'da menjawab “aku memiliki kenangan manis bersama laki-laki ini, cinta yang tak tergoyahkan bersamanya aku akan sabar menghadapi kesengsaraan hidup, sebagaimana bersamanya aku mereguk kenikmatan pada saat bahagia menjelang.”

Mu'awiyyah bin Abu Sufyan terkagum-kagum dengan kecintaan Su'da pada suaminya yang miskin. Ia kemudian memberi sepuluh ribu dinar dan beberapa lembar pakaian kepada wanita itu. Hal yang sama ia juga lakukan pada suaminya, lalu ia mengembalikan wanita itu pada suaminya dengan akad yang syah.

Cinta sejati adalah cinta karena Allah Azza Wa Jalla. Bencipun adalah karena Allah. Cinta seperti itu akan senantiasa lulus dari berbagai ujian dan mendatangkan berkah pada para pemiliknya. Cinta seperti inilah yang harus dimiliki para pecinta di atas muka bumi ini.



Sumber : Kang Dicky 

Article :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa komentar dan pendapat anda? Adakah saran untuk admin?

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Comment Facebook

Get This Gadget

Popular Posts

Ready 3 Data AON

Followers