"Selamat sejahtera semoga keselamatan dan keberkahan dilimpahkan kepada anda"

Minggu, 08 April 2012

PERAN DAN KEDUDUKAN ILMU

Peran Ilmu 

Secara ringkas, peran ilmu pengetahuan telah dikemukakan oleh imam AL Ghazali dengan ungkapan yang sangat indah; 
“Barang siapa menghendaki dunia wajib baginya berilmu, barang siapa menghendaki akhirat wajib baginya berilmu, dan barang siapa menhendaki keduanya wajib baginya berilmu.” 
Berikut ini akan kami uraikan tiga peran ilmu pengetahuan menurut imam Al Ghazali di atas. 
? Sarana Untuk Meraih Sukses Di Dunia 
Pada paruh pertama millennium kedua, bangsa Eropa masih menganggap bahwa kebersihan adalah pekerjaan setan, pengobatan masih berada di tangan para dukun, Abad inilah yang mereka sebut sebagai abad pertengahan, yang melambangkan masa-masa keterbelakangan dan kegelapan mereka. Pada saat yang sama, kaum muslimin telah mampu menguasai dunia. Peradaban mereka menjadi soko guru peradaban dunia. 
Dunia mengenal nama-nama besar ilmuwan, ahli filsafat, sastrawan, para tokoh, dan pengusaha muslim. Ketenaran mereka menggaung di seluruh penjuru dunia. Mereka meninggalkan pengaruh yang sangat membekas dan berarti dalam berbagai bidang seperti sains, filsafat, sastra, dan politik. 
Dalam bidang sains, dikenal nama Bairuni, Khawarizmi, Ibnu Haitsam, Abu Bakar Ar Razi, dan Zahrawi. Dalam disiplin ilmu filsafat, dunia mengenal nama-nama besar seperti Ibnu Sina (Avesina), Ibnu Rusyd (Averos), dan Ibnu Thufail. Dalam bidang sastra, kita mengenal nama seperti Mutanabi, Abu A’la Al Ma’ry, Abu Hayan At Tauhidy, dan Jalaluddin Rumy. Dalam bidang politik dan pemerintahan, dikenal nama semisal Nuruddin, Mahmud As Syahid, dan Shalahuddin Al Ayubi. Dan di samping mereka, masih terdapat ribuan bahkan puluhan ribu ilmuwan yang kepandaian dan kecerdasannya setingkat di bawah mereka. Begitulah potret keemasan ummat Islam pada paruh pertama millennium kedua Masehi. 
Pada paruh kedua millennium kedua, kendali dunia bergeser ke pihak Barat. Ia mulai bangkit dari kegelapannya menuju cahaya, dari stagnasi menuju pergerakan, dari kelelapan menju kesadaran, dari kejumudan menuju pembebasan, dari puritanisme menuju progresivitas. 
Mengapa mereka bisa berubah? Orang yang jujur tidak akan sanggup memungkiri bahwa sesungguhnya Barat bisa maju dan berkembang karena berinteraksi dengan kaum muslimin, baik pada masa perang maupun damai, pada peperangan salib maupun ketika kaum muslimin berada di Andalusia dan Sisilia, serta daerah-daerah lain yang menjadi jembatan komunikasi antara kaum muslimin dan orang-orang Barat. Orang-orang Barat belajar di Universitas-Universitas Islam, dari para cendekiawannya, dan dari buku-buku karangan kaum muslimin. Mereka juga belajar metode eksperimental induktif dari peradaban kaum Muslimin. Sejak itu mulailah mereka bangkit sementara kaum muslimin justru mulai tergelincir, mereka bangun dari tidurnya sedangkan kita justru terlelap dalam tidur panjang, mereka memandang ke depan sementara kita malah menoleh ke belakang. 
Saat ini, di mana Barat dan di mana Kaum Muslimin? 
Negara-negara Barat telah berbicara tentang berbagai revolusi besar yang hendak dijalankan; revolusi teknologi, revolusi biologi (geneologi, cloning, penemuan peta gen manusia dan sejenisnya), revolusi elektronik (komputer, internet, cyber space, dll), revolusi ruang angkasa (penaklukan bulan, percobaan penjelajahan ke planet-planet, dll), revolusi komunikasi dan informasi, dan seterusnya. Di mana posisi Kaum Muslimin di tengah revolusi negara-negara Barat ini? 
Kaum Muslimin mampu membeli barang-barang paling mewah dan paling mahal dari produk sains dan teknologi. Kaum Muslimin mampu membeli mobil mewah seperti mecedes benz atau rolls Royce dengan tingkat harga yang tiada bandingnya, akan tetapi kaum muslimin belum mampu membuat satupun komponen barang mewah itu. 
Mereka menjual barang-barang produksinya sesuai keinginan mereka bukan keinginan kaum muslimin. Mereka menjual barang-barang konsumsi kepada kaum muslimin dan untuk itu mereka mendapatkan kekayaan yang melimpah ruah dari kaum muslimin. Namun untuk teknologi nuklir atau produk kecanggihan teknologi lainnya mereka tidak menjualnya kepada kaum muslimin namun menjualnya kepada Israel. 
Inilah kekalahan penguasaan dunia kaum muslimin terhadap orang-orang barat. Sampai kapan ini akan berlangsung? Sampai tidak ada di antara kaum muslimin yang berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan orang-orang barat untuk kita, untuk mempersembahkan kepada kita ilmu pengetahuan dan teknologi agar kita bisa berkonsentrasi dalam menyembah Allah”, dan kemudian kaum muslimin bergairah kembali untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Kami yakin, kaum muslimin tidak akan mengalami kesulitan untuk menguasainya. Sebab, ilmu pengetahuan yang dikatakan modern tersebut, sebenarnya merupakan ilmu pengetahuan kuno yang pernah dikuasai dan dikembangkan ummat Islam di era keemasan peradaban Islam. 



? Sarana Untuk Meraih Sukses Di Akhirat 
Persepsi yang benar merupakan pendahuluan yang penting bagi visi yang benar dan amal yang lurus. Oleh karena itu bagi ummat Islam ilmu mendahului amal bahkan ilmu adalah petunjuk iman dan jalan aqidah yang benar. Imam gazali berpendapat, bahwa mukadimah agama dan berakhlaq dengan akhlaq para nabi dan orang-orang yang shidiq tidak akan tercapai kecuali diramu dengan tiga dimensi yang tersusun rapi, yaitu: ilmu, perilaku, dan amal. Ilmu akan mewariskan perilaku, dan perilaku akan mendorong amal. Para psikolog menamakannya persepsi, emosi dan kecenderungan. 
Di dalam AL Qur’an, urutan tersebut sangat jelas. Allah berfirman; 
“Dan orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasannya Al Qur’an itulah yang haq dari Tuhanmu, lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya” (Al Hajj:54) 
Huruf ‘athaf dalam ayat tersebut adalah “fa:. Itu mengandung arti tertib dan berurutan; setelah ilmu adalah iman, dan setelah iman adalah tunduk. Oleh karena itu, apabila mereka tahu (ilmu) pasti beriman, dan apabila beriman pasti tunduk. 
Dalam ayat yang lain Allh berfirman: 
“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan melainkan Allah dan mohonkanlah ampunan bagi dosamu dan bagi dosa orang-orang mu’min laki-laki dan perempuan” (Muhammad:19) 
Perintah “tahu” (i’lam) didahulukan daripada perintah “’amal”, yaitu memohon ampun. Pensyarah berkata: “Allah menghendaki bahwa ilmu itu merupakan syarat bagi syahnya ucapan dan ‘amal. Ucapan dan ‘amal tidak akan diangap kecuali jika disertai dengan ilmu terlebih dahulu. Sebab, ilmu itu meluruskan niat, dan niat akan meluruskan amal. 
Musibah yang paling berbahaya yang menimpa manusia adalah kekeliruan yang disebabkan oleh karena ketiadaan/kekurangan ‘ilmu. Sehingga, yang bathil dipandang haq dan yang haq dipandang bathil, yang ma’ruf dianggap munkar dan yang munkar dianggap ma’ruf, yang sunnah itu bid’ah dan yang bid’ah itu sunnah. Manusia terbuai dengan amalnya yang buruk, dan dianggapnya sebagai kabaikan. Allah SWT berfirman: 
“Katakanlah: Sukakah kalian Kami beri tahu kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya? Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya”. (Al Kahfi: 103-104). 
Kekeliruan pemahaman ini tidak saja merugikan diri sendiri tetapi sangat mungkin merugikan kaum muslimin bahkan manusia secara keseluruhan. Karena kekeliruan ini bisa saja seseorang menganggap dirinya pahlawan bagi Islam, padahal sesungguhnya dia adalah penghancur Islam. Bisa jadi seseorang menganggap dirinya pembaharu, padahal sesungguhnya dia adalah pembuat 
Oleh karena itu, diantara do’a yang ma’tsur adalah: 
“Ya Allah…Tunjukkanlah yang haq itu adalah haq dan berilah kami kekuatan untuk mengikutinya. Tunjukkanlah yang bathil itu bathil dan berilah kami kekuatan untuk menjauhinya”. 
Di dalam sebagian hadits, ada peringatan terhadap suatu zaman yang pada waktu itu yang ma’ruf dijadikan munkar dan yang munkar dijadikan ma’ruf. Itu semua terjadi karena sedikitnya ilmu. 
Khalifah Umar bin Abdul Aziz berkata: “ Seseorang yang ber’amal tanpa dasar ilmu, akan lebih banyak menghasilkan kerusakan dari pada kemaslahatannya”. Imam Hasan al Basri berkata: “Seseorang yang beramal tanpa ilmu, bagaikan orang berjalan tanpa arah dan tujuan. Seseorang beramal tanpa ilmu, yang dirusak lebih banyak daripada yang diperbaikinya. Maka, tuntutlah ilmu dengan cara yang tidak merusak ibadah. Dan tuntutlah ibadah dengan cara yang tidak merusak ilmu. Sebab ada suatu kaum yang menuntut ibadah tetapi meninggalkan ilmu, sehingga mereka keluar membawa pedang membantai ummat Muhammad saw. Seandainya mereka menuntut ilmu, niscaya mereka tidak akan melakukan tindakan tersebut.” 
Yang dimaksud dengan mereka itu adalah kaum Khawarij yang menghalalkan darah dan harta benda ummat, mengkafirkan manusia secara keseluruhan, meskipun mereka itu adalah ahli puasa, shalat tahajud, membaca Al Qur’an. Kondisi mereka seperti yang digambarkan dalam sebuah hadits berikut: 
“Diantara kalian ada yang membutuhkan shalat kalian kepada shalat mereka, puasanya kepada puasa mereka, dan bacaannya kepada bacaan mereka. Tetapi bencana mereka, bahwa mereka membaca Al Qur’an tidak melebihi kerongkongan mereka. Artinya: bahwa mereka tidak mendalami pemahaman Al Qur’an, sehingga sampai ke titik bahwa mereka membunuh orang-orang Islam dan membiarkan penyembah-penyembah berhala.” 
Agar tidak tertipu, kaum muslimin harus berilmu sebelum ber’amal. Sebab, sebagaimana dikatakan oleh Mu’adz RA: “Ilmu adalah imamnya ‘amal, dan ‘amal adalah pengikut ilmu”. Dengan demikian, ilmu syar’i adalah merupakan kewajiban sekaligus kebutuhan bagi muslim. Setiap muslim membutuhkan ilmu (ilmu syar’i) karena: 
? Ilmu, melalui sebuah prinsip dan patokan yang dibuatnya untuk meluruskan pemahaman dan penggunaan dalil, merupakan satu-satunya sarana untuk membedakan antara keyakinan yang haq dan keyakinan yang bathil, antara fikrah yang benar dan yang keliru. 
? Ilmu merupakan satu-satunya sarana untuk membedakan antara yang disyari’atkan dengan yang tidak disyari’atkan. Yakni membedakan antara yang halal dan yang haram dalam segala hal dan tingkah laku, antara yang sunah dan yang bid’ah dalam mendekatkan diri kepada Allah dan ibadah, antara yang baik dan yang buruk dalam akhlaq dan perilaku. Ilmulah yang membuat batasan-batasan untuk semua itu. 
? Ilmu merupakan satu-satunya sarana untuk memberikan tingkatan-tingkatan amal dan kewajiban sayari’at secara benar. Misalnya, menyangkut hal-hal yang diperintahkan. Ilmu mengatakan; ini sunnah, ini fardhu, ini fardhu ‘ain atau fardhu kifayah. Menyangkut hal-hal yang dilarang ilmu mengatakan; ini makruh, sybhat, atau haram. Mengenai hal yang haram, ilmu memberikan petunjuk; ini dosa besar, dosa kecil, atau dosa paling besar. 
? Ilmu juga merupakan satu-satunya sarana untuk menghukum secara adil pribadi-pribadi dan jama’ah, mengevaluasi sikap dan kasus secara benar yang jauh dari kedzaliman dan hawa nafsu, dan terhindar pula dari ifrath (berlebihan) dan tafrith (berkurang). 



? Sarana Untuk Meraih Sukses Di Dunia Dan Akhirat 
Dalam bukunya yang berjudul Membentuk Kemanusiaan, Bripolt berkata: “Ilmu pengetahuan adalah faktor terbesar yang memajukan budaya Arab ke dunia modern ini. Tidak ada satu aspek pun di antara aspek-aspek kemajuan Eropa, kecuali di dalamnya ada pengaruh kebudayaan Islam. Ketahuilah, bahwa pengaruh paling besar dan paling penting adalah adanya kekuatan yang menyatukan faktor abadi di dunia modern ini. Sumber tertinggi yang menyebabkan kemenangannya adalah ilmu fisika dan metode ilmiah. Fakta ini menunjukkan bahwa Islam adalah diin pembinaan kebudayaan. 
Pengakuan ini menjadi bukti bahwa kaum muslimin pernah mencapai puncak kejayaan dalam mengelola dunia, yang hasilnya telah dirasakan oleh seluruh manusia, khususnya bangsa Eropa pada saat ini. Pertanyaannya kemudian adalah: “Siapakah di antara kaum muslimin yang mempunyai andil besar dalam mengukir prestasi yang sedemikian gemilang itu? Jawabannya, mereka adalah para ulama kita, yaitu pribadi-pribadi yang sangat mendalam pemahamannya tentang Islam. Pribadi-pribadi inilah –yang berkumpul dalam dirinya penguasaan ilmu duniawi dan ilmu Islam- yang telah berhasil memajukan dunia dengan ilmu yang dimilikinya, dan dunia berhutang budi kepada mereka. Pribadi-pribadi seperti inilah –yang menguasai ilmu duniawi dan Islam- yang layak mendapatkan predikat sebagai orang yang sukses di dunia dan di akhirat 
Bagaimana dengan kaum muslimin dewasa ini? Jawaban paling jujur yang bisa kita berikan terhadap pertanyaan ini adalah bahwa prestasi kaum muslimin baik dalam bidang agama (Islam) maupun dunia jauh di bawah generasi pendahulunya. Bahkan khusus untuk prestasi dunia, kaum muslimin dewasa ini jauh tertinggal di belakang ummat lainnya, khususnya Barat. Mengapa demikian? 
Dr. Yusuf Qordhowi, dalam bukunya yang berjudul Humuumul Muslimil Mu’ashir (judul terjemahan; Agenda Permasalahan Ummat), memberikan penjelasan tentang penyebab keterbelakangan ummat Islam yang sangat layak mendapat perhatian kita. “Sebenarnya”, tulis Beliau, “Rahasia keterbelakangan ummat Islam – jika kita hendak simpulkan – terletak pada pemahaman ummat yang salah terhadap konsep Islam. Mereka hanya mengambil warisan yang jelek yang terdapat pada zaman kemunduran ummat Islam serta mengambil apa yang terjelek dari Barat”. 
Islam tidak memberikan standar mas kawin yang tinggi, dan dan tidak pula menganjurkan untuk berfoya-foya dalam menyelengarakan walimatul ursy, Islam sama sekali tidak pernah mempersulit ummatnya untuk membentuk keluarga yang sakinah. Namun sekarang, sebagian besar ummat Islam telah mempersulit diri dalam urusan pernikahan ini. Ummat Islam telah mempersulit jalan yang halal dan mempermudah jalan yang haram. 
Ketika Islam mensyari’atkan poligami maka sebenarnya Islam tidak mensyariatkannya sesuai yang dipraktikan oleh ummatnya dewasa ini. Ummat Islam melakukan poligami dengan dua, tiga, atau empat istri tanpa didasarkan atas motivasi yang disyari’atkan Islam. Lebih dari itu, poligami dilakukan oleh ummat Islam tanpa disertai kemampuan pelakunya untuk memberikan nafkah terhadap istri-istrinya. 
Itulah sebagian kecil bukti bahwa ummat Islam mengambil yang jelek dari warisan abad kemunduran Islam. 
Sementara dalam hubungannya dengan Barat, kita mengetahui bahwa Barat memiliki hal-hal yang baik dan yang buruk. Mereka menguasai sains dan teknologi serta system manajemen yang handal. Kelebihan-kelebihan itu tidak kita ambil, padahal sebagaimana dikemukakan oleh orang-orang yang jujur dikalangan mereka, itu semua mereka ambil dari Islam. Selama ini, yang diambil oleh ummat Islam dari Barat adalah kulit-kulit kebudayaan mereka yang berupa riba, hal-hal yang tabu, dan undang-undang mereka dengan segala kelemahannya, sampai-sampai kita lupa bahwa kita sendiri memiliki undang-undang yang jauh lebih sempurna. 
Kondisi seperti di atas berlangsung secara terus-menerus dalam waktu yang sudah sangat lama. Sehingga dapat dikatakan bahwa ummat Islam sekarang, dalam ungkapan yang cukup berlebihan, merupakan perpaduan dari dua keburukan, yaitu keburukan warisan abad kemunduran Islam dan keburukan Barat. Maka pantaslah kalau ummat Islam berada pada barisan yang paling belakang. 
System pendidikan yang diterapkan di negara-nagara yang berpenduduk mayoritas Islam mempunyai andil untuk melanggengkan keterbelakangan ummat Islam. Di sebagian besar negara Islam, pengajaran terbagi menjadi dua, yaitu pengajaran agama dan sekuler. Garis demarkasi antara pengajaran agama dan pengajaran ilmu-ilmu lainnya (ilmu alam dan ilmu-ilmu social/humaniora) terlihat sangat tegas. Akibatnya, yang belajar ilmu agama kurang bahkan tidak memahami ilmu-ilmu lainnya demikian pula sebaliknya. Maka, tidaklah mengherankan jika system pengajaran itu melahirkan sosok agamawan yang tidak compatible dengan zamannya dan menghasilkan sosok ilmuwan yang sangat awam bahkan sama sekali tidak memehami ajaran agamanya. Kedua sosok tersebut sama-sama merugikan perkembangan Islam dan kaum muslimin. 
Sosok yang pertama merugikan perkembangan Islam karena sosok tersebut kurang/tidak mampu membahasakan Islam sesuai dengan bahasa zamannya. Akibatnya, gambaran yang paling mudah muncul dalam benak generasi baru adalah bahwa Islam tidak mampu menghadapai perkembangan zaman yang semakin pesat. Padahal sesungguhnya bukan Islmanya yang tidak mampu menjawab tantangan zaman melainkan para da’inya. 
Sosok yang kedua juga sangat merugikan. Dengan kepakarannya terhadap ilmu ilmu –misalnya ilmu social/humaniora- Barat dan dan ketidakfahamannya tentang Islam, seringkali mereka mmembuat statement yang sangat tidak benar dan sangat merugikan ummat Islam. Misalnya, Islam tidak mengenal politik, Islam tidak mengatur tata negara, Islam itu suci maka jangan dikotori dengan politik dan ungkapan-ungkapan lain yang senada dengan itu. 
Tampilnya dua sosok –sosok agamawan yang tidak compatible dengan zaman dan sosok ilmuwan yang tidak memahami ajaran agamanya- di pentas kehidupan secara bersama-sama akan sangat membingungkan kaum muslimin secara keseluruhan. Dua-duanya telah diberi predikat sebagai tokoh atau bahkan pakar namun keduanya mempunyai pandangan yang sangat berbeda tentang Islam dan kehidupan. Perbedaan itu tidak bersifat sementara namun perbedaan itu bersifat permanen. Tarik-menarik senantiasa terjadi, pada suatu kesempatan sosok yang pertama menang sehingga berperan dominan dan pada kesempatan lain sosok kedua menang dan berperan dominan. Akibatnya, kaum muslimin mengalami stagnasi pemikiran dan disintegrasi yang berdampak pada terjadinya musibah intelektual, ekonomi, cultural, social dan pendidikan. 
Perkembangan yang sangat merugikan bagi arah pemikiran Islam ini, secara pelan disadari –dengan berpijak pada Al Qur’an dan Sunnah Nabi saw- oleh para tokoh pergerakan Islam diberbagai negeri. Berangkat dari kondisi tersebut, mereka melakukan tajdid dan melakukan gerakan untuk mengentaskan kaum muslimin dari keterbelakangannya. Semoga Allah memberkahi usaha mereka dan mengabulkan permintaan mereka. 



Kedudukan Ilmu 
Ilmu memiliki kedudukan yang sangat tinggi dihadapan Al Akhaliq maupun makhluqnya (khususnya manusia). Tingginya kedudukan ilmu di hadapan Al Khaliq dapat dilihat dari hal-hal berikut: 
? Pemuliaan dan pengistimewaan yang diberikan oleh Allah bagi hamba-Nya yang berilmu. Dalil-dalilnya adalah: 
? “…..Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. (AL Mujadilah: 11). 
? Kelebihan seorang ‘alim (ilmuwan) terhadap seorang abid (ahli ibadah) abarat bulan purnama terhadapseluruh bintang (HR Abu Dawud) 
? Duduk bersama para ‘ulama adalah ‘ibadah (HR. addailami) 



? Adanya janji dari Allah berupa pahala yang sangat besar bagi usaha-usaha untuk mendapatkan ilmu.
? Barang siapa merintis jalan mencari ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga (HR Muslim) 
? Wahai Abu Dzar, kamu pergi mengajarkan ayat dari kitabullah lebih baik bagimu daripada shalat (sunnah) seratus rekaat, dan pergi mengajarkan satu bab ilmu pengetahuan baik dilaksanakan atau tidak, itu lebih baik dari pada shalat seribu raka’at. (HR. Ibnu Majah) 
? Adanya perintah yang memberikan kewajiban kepada kaum muslimin untuk menuntut ilmu. 
? Menuntut ilmu wajib atas tiap muslim (baik muslimin maupun muslimah (HR. Ibnu Majah). 
? Tuntutlah ilmu, sesungguhnya menuntut ilmu adalah pendekatan diri kepada Allah Azza wajalla, dan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah shadaqah. Sesungguhnya ilmu pengetahuan menempatkan orangnya dalam kedudukan terhormat dan mulia (tinggi). Ilmu pengetahuan adalah keindahan bagi ahlinya di dunia dan akhirat. (HR Ar-rabii’) 



Sedangkan tingginya posisi ilmu di hadapan makhluq (manusia) dapat dilihat dari penghargaan yang diberikan oleh manusia kepada para ilmuwan. Berikut ini kami akan kami paparkan pengakuan (penghargaan) manusia kepada prestasi kaum muslimin. Pengakuan ini menyiratkan adanya penghargaan yang amat tinggi kepada ilmu pengetahuan. Di antara pengakuan tersebut, adalah sebagai berikut: 
? Dozy, seorang orientalis Belanda mengatakan, “Di seluruh pelosok Andalus tidak terdapat seorang buta huruf pun. Sementara di Eropa belum ada yang benar-benar mengenal baca tulis, kecuali para paderi di kalangan elit. 
? H.A.R Gibb, di dalam bukunya yang berjudul Aliran Modern Dalam Islam berkata: “Saya yakin sudah menjadi kesepakatan bahwa penelitian secara mendalam dan terperinci yang dilakuka oleh para peneliti muslim, secara signifikan dan nyata telah menopang kemajuan ilmu pengetahuan ilmiah, dan bahwa dengan jalan penelitian-penelitian ini sampailah metode eksperimental ke Eropa pada abad-abad pertengahan”. 
? Setelah melalui pembicaraan yang panjang dalam membandingkan kebudayaan Islam di Andalusia dengan kebudayaan Eropa pada abad pertengahan, Fictor Robinson berkata: “…. Para pembesar Eropa tidak dapat menandatangani nama-nama mereka. Sementara anak-anak kecil muslim di Cordova telah mendirikan perpustakaan yang kebesarannya menyerupai kebesaran perpustakaan Alexandria yang Agung …” 



Apa yang Harus Kita Lakukan? 
Said Hawa, dalam bukunya yang berjudul Al Mustakhlash fii Tazkiyyatil Anfus, berkata: “Mengambil ilmu secara optimal sehingga tidak merasa cukup dengan sebutan ‘alim (berpengtahuan) tetapi senantiasa meningkatkan ilmunya sehingga mendapatkan predikat ‘aliim (berpengetahuan luas) merupakan keharusan bagi setap muslim. Maqom ubudiyyah dan ilmu menuntut agar ia menguasai fardhu ‘ain dan mendalami salah satu fardhu kifayah.” 
Mempelajari ilmu yang berhubungan dengan pembentukan individu muslim secara ruhani, intelektual, fisik dan moral, sesuai dengan ukuran yang dibutuhkan, hukumnya fardhu ‘ain. Wanita, laki-laki, anak-anak, orang dewasa, pegawai dan seluruh tingkatan ummat Islam wajib melaksanakannya. Oleh karena itu, belajar membaca Al Qur’an, hukum-hukum ibadah, dasar-dasar akhlaq yang utama, masalah-masalah halal dan haram, kaidah-kaidah kesehatan umum, dan segala yang dibutuhkan oleh seorang muslim dalam urusan diin dan dunianya adalah fardhu ‘ain bagi setiap muslim dan muslimah. 
Sedangkan mempelajari ilmu yang berkaitan dengan pertanian, perindustrian, perdagangan, kedoteran, arsitektur, elektro, peralatan perang, dan ilmu-ilmu lain yang bermanfaat, hukumnya fardhu kifayah. Jika sudah dikerjakan oleh sebagian orang, maka bebaslah sebagian yang lain dari dosa dan tanggung jawab. Tetapi, jika tidak ada seorangpun di antara masyarakat muslim yang mengerjakannya, maka seluruh kaum muslimin harus memikul dosa dan tanggungjawabnya. 
Berdasarkan hal-hal di atas, seorang muslim seharusnya mempelajari ilmu-ilmu Islam (syar’i) untuk menyempurnakan dirinya sebagai muslim dan menekuni salah satu ilmu yang bermanfaat lainnya. Dalam hubungannya dengan ilmu-ilmu Islam, hal-hal apa saja yang mestinya kita prioritaskan untuk kita pelajari? 
Dalam buku Al Mustakhlash fii Tazkiyyatil Anfus, Sa’id Hawa berkata: “Kemuliaan hamba ditentukan oleh ilmu yang dipelajarinya, karena ilmu termasuk sifat Allah. Tetapi ilmu yang paling mulia adalah ilmu yang hasil pengetahuannya paling mulia, sedangkan pengetahuan yang mulia adalah tentang Allah SWT. Oleh sebab itu, ma’rifatullah merupakan pengetahuan yang paling utama. Demikian juga mengetahui jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah, atau perkara yang dapat memudahkan pencapaian kepada ma’rifatullah dan kedekatan kepadanya.” 
Sehubungan dengan hal tersebut, pada materi-materi berikutnya, kami akan mencoba untuk memberikan pengenalan awal terhadap hal-hal yang perlu kita prioritaskan tersebut, yaitu: Mengenal Allah, Mengenal Rasul, dan Mengenal Islam. 



wallahu a’lam bishowab 



Article :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa komentar dan pendapat anda? Adakah saran untuk admin?

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Comment Facebook

Get This Gadget

Popular Posts

Ready 3 Data AON

Followers