"Selamat sejahtera semoga keselamatan dan keberkahan dilimpahkan kepada anda"

Senin, 14 Januari 2013

Peran orangtua dalam membantu mengoptimalkan Intellegensia anak-anak


Dituliskan oleh :
Ratih Gandasetiawan. PhyT
Fisioterapis Perkembangan Anak


Pendahuluan

Sejauh mana sih, seorang anak mampu belajar sebelum usia 5 tahun, dan apa sebetulnya yang terbentuk pada otaknya selama prasekolah ini ?

Perkembangan anak
Bab I Orang tua merupakan guru terbaik

Kesimpulan


Apakah tingkat kecerdasan anak itu ditentukan oleh faktor genetik atau tingkat kecerdasan anak dapat dipengaruhi dari cara mendidik kita sebagai orangtua sebelum anak masuk ke sekolah ?

Betul sekali, keduanya memang ada pengaruhnya, hanya saja apakah kita sebagai orangtua sudah memberikan anak-anak kita kesempatan yang se-banyak-banyaknya agar anak kita bisa mengembangkan dirinya sebelum mereka memasuki jenjang sekolah ?
Usia berapakah, yang disebut usia perkembangan?
Sejak dilahirkan sampai usia 6 tahun, sebetulnya sudah mulai banyak beredar buku-buku atau tabloid-tabloid yang mengupas masalah perkembangan anak serta pertumbuhan otak anak sebelum usia 5 tahun mungkin disitu anda bisa mendapatkan jawaban yang anda inginkan. Tetapi mari secara bersama kita teliti kembali; dengan apa yang saya maksudkan di atas tadi yaitu mempengaruhi otak anak pada usia perkembangan.

Jean Piaget, sebagai seorang profesor di bidang Psikologi perkembangan anak dari Universitas Geneva, Swiss, mengatakan bahwa kemampuan anak untuk beradaptasi dengan lingkungannya sudah dirintis sejak lahir, yang kemudian berkembang sejalan dengan tahapan perkembangannya.

Piaget membagi tahap perkembangan kognitif kita dalam 4 tahapan :
1.    Tahap Senso-motorik ( sejak lahir sampai usia 2 tahun )
2.    Tahap pra-operasional ( usia 2 tahun sampai usia 7 tahun )
3.    Tahap konkret-operasional ( usia 7 tahun sampai usia 11 tahun )
4.    Tahap formal-operasional ( usia 12 tahun keatas )

Semua kemampuan yang anak miliki, tidak didapat oleh anak secara langsung, namun bertahap. Dan ini dimulai sejak anak dilahirkan, jadi disini sudah terbukti, bahwa masa optimal untuk merangsang kemampuan dasar belajar pada anak sebagian besar terjadi sebelum anak mencapai usia 5 tahun, jadi sebelum mereka masuk jenjang sekolah.

Bila anak memperoleh petunjuk dan pengarahan yang cukup dari lingkungannya, mengenai proses belajar semasa kecil, maka kita sebagai orangtua berarti sudah ikut meningkatkan kecerdasan anak-anak kita, serta memberikan mereka kegairahan untuk belajar seumur hidup mereka.



Anda sebagai orangtua, merupakan guru pertama yang paling penting bagi anak anda.
Anda mempunyai kesempatan yang paling besar untuk mempengaruhi kecerdasan anak anda, pada saat-saat mereka masih sangat peka terhadap pengaruh dari luar, dengan memberikan mereka pengarahan sesuai dengan tempo dan cara mereka belajar.
Anda pula yang merupakan orang yang paling mengenali anak anda, kapan dan bagaimana cara ia dapat belajar dengan se-baik-baiknya.

Sebagai contoh :

Suatu hari di suatu tempat dimana banyak anak-anak berkumpul, mereka semua terlihat berlarian dan berteriak-teriak dengan penuh kegembiraan, pada suatu saat semua terdengar tenang dan tidak ada lagi suara anak yang berteriak-teriak sehingga para orang tua menjadi was-was dan mulai mencari anak-anak tersebut. Ternyata mereka sedang duduk dengan tenang dan bergariah untuk mendengarkan  cerita yang sedang dibacakan oleh salah seorang anak dengan suara yang lucu dan melakukan gerak-gerakan sesuai dengan cerita tersebut. Dan semua teman-temannya merasa tertarik sehingga mereka berdiam diri dan berkonsentrasi mendengarkan cerita tersebut.

Anak tadi ternyata tidak termasuk anak yang genius, tingkat kecerdasannyapun hanya rata-rata, tetapi orang tuanya telah memberikan kesempatan pada anaknya pada saat otaknya sedang berkembang untuk selalu belajar melalui pengalaman hidupnya, sehingga sensori-motor nya berkembang optimal, dan  hasilnya anak tersebut memiliki gairah belajar yang tinggi yang mana tingkat kecerdasannyapun menjadi optimal.

Hal ini tidak berarti anda harus mengajarkan anak anda agar dia menjadi status simbol, hanya karena anak kenalan anda yang masih berusia 4 tahun sudah bisa membaca, maka anda menginginkan anak anda  seperti itu juga, dan bila anda berbuat seperti itu, berarti anda sudah merampas kesempatan anak anda untuk menikmati masa kecilnya.

Perlu diakui dari hasil penelitian kami dilapangan sebagai para pakar perkembangan anak di Indonesia, yang kita lihat selama ini adalah :
§  Masyarakat kita pada saat ini masih kurang menghargai kemampuan anak dibawah usia 5 tahun, mereka menilai terlalu rendah atau terlalu tinggi mengenai apa yang harus diketahui dan apa yang harus dipelajari anak balita.
§  Kurangnya usaha dalam mendidik anak, misalnya untuk mengubah metoda-metoda lama yang terlalu menginginkan anak “Harus Patuh”, yang mana aturan main seperti ini merupakan tradisi yang terlalu mengikat kebebasan anak dan hal seperti ini bisa menghambat perkembangan sensori-motor anak sehingga peningkatan kognisi/kecerdasan anak yang bisa menghasilkan kegairahan anak dalam belajar juga terganggu.
§  Disamping itu, sistem pendidikan kita juga kurang memperhatikan sisi psikologi perkembangan anak padahal usia perkembangan adalah usia anak yang paling peka.
§  Terbatasnya kesadaran dan ruang gerak masyarakat kita untuk dapat  lebih berkreasi dalam mendidik/menangani anak-anak kita.
§  Masih kurangnya kesadaran akan pentingnya kerjasama antar profesi dalam menangani permasalahan perkembangan anak.

Selain itu terbukti pula, dari kenyataan yang ada dimana masih banyak orangtua yang menilai bahwa kemampuan belajar anaknya terlalu rendah. Yang merupakan kendala yang paling utama yang dihadapi oleh anak-anak, masih banyak orang dewasa yang kurang bersedia mendengarkan atau memberikan respons positif terhadap keluhan, dan permintaan anak-anak. Jadi tolonglah, bila hal seperti itu terjadi di lingkungan anda, berikanlah respons positif anda sekarang juga pada anak anda, dan berikanlah kesempatan bagi anak anda untuk mengembangkan kreativitasnya dan tolong hargai semua pendapat anak anda.

Tentu saja ini bukan berarti bahwa anda harus selalu me”lulus”kan permintaannya, tetapi mereka membutuhkan respons dan penjelasan dari anda, disitu mereka akan belajar merespekt penjelasan anda. Bila anda selalu konsisten dan konsekwen dengan penjelasan yang anda berikan, maka anakpun akan belajar dari anda untuk selalu menghormati dan memperhatikan orang lain, sehingga tidak terjadi agresivitas pada anak. Biarkan anak anda belajar melalui pengalamannya sendiri, terutama bila anak anda ingin mencoba sesuatu. Bila anda tahu itu hal yang akan dicoba agak berbahaya, cukup anda arahkan bukan melarang. Sehingga anak merasa dihargai.


Bab II Pengalaman Gerak

Membiarkan anak belajar dari pengalaman gerak tubuhnya saja, sejak usia belia  berarti anda sudah menerapkan pengetahuan sesuai dengan kebutuhan otak anak anda pada tahun-tahun awal dalam hidupnya. Sehingga perkembangan senso-motoriknya, serta perkembangan mentalnya bisa berkembang sesuai dengan usianya. Dan anak akan menjadi lebih cerdas serta lebih bergairah untuk mempelajari sesuatu melalui pengalaman hidupnya. “Membatasi gerak anak pada saat anak berusia 9 sampai 18 bulan hal tersebut bisa menghambat perkembangannya, dan bahkan menurunkan tingkat kecerdasan dan emosional yang akan dicapai.” Begitu tulis Dr. Joseph Mc Vicker Hunt, profesor dalam psikologi di Universitas Illionis.

Sebaiknya anda jangan berpikiran ingin mendidik anak anda dengan tujuan agar anak menjadi manis, patuh dan tidak mempunyai banyak tuntutan.
§  Tetapi rangsanglah sensori-motorik anak anda dan berikan mereka macam-macam kegiatan motorik dalam memperhatikan dan mempelajari macam-macam benda yang ada di sekelilingnya.
§  Mendengarkan  macam-macam suara dan bunyi, mencoba untuk mengikuti irama musik melalui gerak tubuh, menaiki benda-benda yang bergerak dan tidak bergerak, biarkan anak mencoba mengangkat benda baik yang ringa maupun yang berat, menarik dan mendorong benda tersebut, meraba, dan meneliti benda-benda yang baru dikenalnya, hal-hal seperti ini sama pentingnya seperti kebutuhan mereka terhadap makanan dan kasih sayang anda.

Yang harus anda ingat, selama anak sedang meneliti dan mencoba, anda harus selalu berada disisinya memberikan pengarahan bila anak menemui kesulitan, bukan melecehkan atau menertawakannya. Berdialoglah dengan anak mengenai segala sesuatu yang anak harus atau ingin tahu, atau yang anda lihat dan dengar pada saat anda bersama anak anda.

Memang banyak buku-buku mengenai pendidikan anak yang mengatakan “Biarkan anak itu matang sendiri, karena cara belajar itu akan muncul sendiri tanpa dipengaruhi oleh rangsangan-rangsangan dari luar”. Pernyataan ini tidak semuanya betul, karena sesuai dengan penelitian kami di lapangan menunjukan, bahwa kemampuan anak untuk meningkatkan kognisinya, sangat ditentukan oleh rangsangan, pengarahan yang jelas, serta kesempatan yang didapat dari lingkungannya dan tentunya dengan menggunakan tempo dan cara dari perkembangan anak itu sendiri.

Tahukah anda berapa banyak pertanyaan keingintahuan dari anak sekitar usia 2-3 tahun perharinya ?  Dan dari pertanyaan-pertanyaan itulah mereka belajar, oleh karena itu berikanlah jawabannya yang benar dan penjelasan yang sesuai dengan usianya.

Dan tahukah anda bahwa anak sekitar usia 3-4 tahun suka memperhatikan dan meniru perilaku orangtuanya yang sedang bekerja dan bukan yang sedang bermain? Itu juga merupakan salah satu cara belajar anak untuk menjadi dewasa.

Anak-anak yang memperoleh kesempatan untuk mempelajari sendiri proses belajarnya melalui pengalaman tubuhnya sendiri (merasakan dan membuktikan sendiri), tanpa banyak didikte atau dikomentari oleh orang dewasa disekitarnya, mereka akan terlihat lebih ceria dan lebih bergariah dalam menghadapi masa depannya, dan hal ini berlaku juga bagi anak-anak yang bermasalah. Umumnya dikemudian hari mereka akan selalu menunjukan sikap positifnya dari kepribadiannya, perasaannya, dan perilakunya. Dan umumnya merekapun mempunyai prestasi belajar yang lebih baik dibandingkan dengan teman-teman lainnya yang mempunyai tingkat kecerdasan yang sama tetapi sering di “leceh”kan atau kurang diperhatikan oleh orangtuanya.

Cobalah pandai-pandai meneliti kegiatan-kegiatan apa saja yang menggembirakan anak anda, dimana minat anak anda yang paling ia suka untuk memberikan seluruh perhatiannya pada kegiatan tersebut.
Carilah tahu hal-hal apa yang sering membuat anak anda menjadi ketakutan sehingga ia tidak mau mencoba sedikitpun meskipun sudah dimotivasikan. Tolong jangan diperkuat rasa takut anak anda dengan menertawakannya, atau menganggapnya lucu, dan jangan gunakan hal tersebut sebagai senjata untuk menyerang dirinya. Tapi redam rasa takut itu, perkuat dengan kekuatan lain yang dimilikinya, beri dorongan mereka untuk mengulangi hal-hal yang positif bagi dirinya, meskipun anak terlihat masih belum berani untuk melakukannya.


Bab III Bermain sambil belajar


Sayangnya, pendapat umum selalu mengatakan bahwa “Bermain” itu adalah lawan dari “Belajar”, hal ini tentu saja bisa menyebabkan anak merasa tertekan mentalnya, sehingga akhirnya mereka kurang bisa mengembangkan dirinya. Padahal bila kita cermati bersama, maka “Bermain” pada bayi atau anak, sebenarnya mereka itu sedang mempelajari sesuatu, karena memang begitulah cara mereka belajar.

Jadi “Belajar”  itu, bukan harus selalu duduk dibangku/kursi dengan manis dan diam, lalu membaca atau menuliskan sesuatu. Belajar itu juga dengan mengkreasikan sesuatu obyek, atau mainan sehingga menjadi suatu eksperimen dan pengalaman yang meng”asyik”kan. Melalui bermain, anak juga belajar mengatasi permasalahan yang timbul pada dirinya tanpa bantuan orang lain, dan belajar untuk menaati aturan dari permainan tersebut,  yang terpenting lagi anak menjadi belajar mengatur strategi  bagi dirinya agar tidak frustrasi dan belajar mengatur strategi untuk bisa berhasil sehingga hasilnya dapat diakui oleh semua orang.

Melalui hal-hal tersebut diatas anak belajar menjadi mandiri dan juga mempunyai kepercayaan diri yang optimal. Sehingga dia akan selalu yakin dengan keberhasilannya tanpa harus menunggu bantuan dari orang lain.

Pada umumnya kegiatan di rumah merupakan suatu kegiatan dimana anak bisa dengan nyaman dan tenang, mempelajari sesuatu yang dapat meningkatkan kemampuannya dan bisa memuaskan rasa ingin tahunya. Karena biasanya di rumah anak akan merasa lebih tenang dan akan lebih bebas mengkreasikan usahanya sendiri. Dan juga mereka merasa lebih tenang untuk mengulang hal-hal yang tadinya dirasa sulit di sekolah. Apalagi bila orangtuanya berada didekatnya, maka anak akan selalu bergembira karena mereka selalu berharap untuk dapat mengulang lagi dihadapan orangtuanya, sehingga bisa mendapatkan support yang positif dari orangtuanya dalam mempelajari hal-hal yang baru itu. Disini mereka ingin sekali meyakinkan bahwa ia juga mampu berbuat hal-hal, yang mungkin sewaktu di sekolah dia dianggap tidak mampu baik oleh teman-temannya maupun oleh gurunya.

Jadi ingat sangatlah tidak adil, bila orangtua atau guru, pada saat anak “Gagal” dalam bereksperimen, lalu anak itu ditertawakan atau dianggap bodoh, karena hal seperti itu akan sangat me”lemah”kan dan mengendurkan aktivitas belajarnya. Anak akan merasa tertekan dan bingung karena tidak mengetahui dimana tempat yang ia sebenarnya bisa merasa nyaman tanpa dilecehkan dan ditertawakan.

Memang perlu diakui, masih banyak guru, atau terapis yang berkecimpung dalam pendidikan anak masih sering menganggap, bahwa orangtua cukup hanya mengajarkan anaknya untuk siap dalam menjaga kebersihan tubuh saja, tidak mengompol dicelana atau bisa membersihkan ingusnya sendiri. Sedangkan hal-hal yang lain yang dianggap oleh pendidik, itu merupakan hal “Akademis” yang sudah selayaknya, merupakan urusan pendidik, jadi orangtua tidak diajak untuk ikut sebagai team work dalam mendidik anaknya.

Memang sebaiknya anggapan seperti itu sekarang kita buang jauh-jauh, karena anak boleh belajar di setiap kesempatan, apakah itu bersifat akademis atau bersifat kemandirian dalam hal menjaga kebersihan tubuhnya sendiri. Hanya mungkin kemampuan kitalah yang terbatas, sehingga kita menbagi-bagi tugas dalam mendidik anak.

Memberikan kesempatan kepada anak anda untuk mengembangkan pengamatan daya tangkap (persepsi) visualnya serta auditorinya  melalui pengembangan sensori-motornya, ini berarti anda sudah membantu anak anda dalam mengembangkan kognisinya. Dan dari pengalaman inilah biasanya akan sangat mempengaruhi keberhasilan anak pada pendidikan sekolah dasar maupun selanjutnya.

Selanjutnya orangtua juga dapat mempengaruhi kemahiran berbahasa pada anak, karena perkembangan berbahasa pada anak sangat tergantung pada orang dewasa yang berada disekitarnya, terutama pada tahun-tahun pertama dalam hidupnya. Orangtua perlu mendorong anaknya untuk mengucapkan kata-kata dan mengajaknya berbicara serta memuji pada saat dia berkata-kata yang benar. Bisa juga dengan membacakan buku-buku cerita yang sesuai dengan usianya. Lalu meminta kepada untuk menceritakanya kembali sesuai dengan versinya sendiri, sehingga kita bisa berdialog dan membawa anak kembali kealur cerita yang sebenarnya. Dalam lingkungan yang seperti ini, penggunaan kata dalam kalimatpun akan berkembang dengan sendirinya pada anak.

Dan bila anda merasa sudah mengerjakan semua hal diatas tersebut, tetapi anak anda terlihat masih kurang peduli, ini berarti anda harus mengkonsultasikan anak anda pada pakar perkembangan anak sebelum terlambat.
Karena bila anak tersebut mahir menggunakan kata-kata, maka iapun harus mahir pula dalam menyampaikan perasaan dan keinginannya melalui kata-kata. Serta anak juga akan berusaha  menggunakan kata-kata sebagai alat pikirnya.


Sebagai orangtua, kita harus selalu menyediakan lingkungan yang nyaman bagi anak kita. Agar anak selalu mempunyai ruang gerak, agar mereka bisa “belajar untuk belajar”.
Dan melatih anak untuk siap menghadapi dunia sebagai sesuatu yang dapat dikuasainya melalui kegiatan-kegiatan yang menyenangkan yaitu “Belajar”.

Berarti:
§  Anak harus mempunyai kesempatan untuk mengembangkan kemampuannya sendiri, sehingga dapat memberikan perhatiannya kepada orang lain karena merasa dihargai dan melakukan kegiatannya dengan tujuan yang jelas.
§  Melatih anak untuk sabar menanti, menunggu giliran dalam menunda keinginan-keinginannya untuk tujuan yang lebih panjang.
§  Melatih untuk dapat mendengarkan serta mempertimbangkan pendapat orang lain.
§  Melatih agar anak belajar memandang serta menghargai orang dewasa sebagai sumber pengetahuan, sumber penghargaan dan pengakuan.

Bagi orangtua yang tidak mampu memberikan dasar-dasar perkembangan seperti ini, terlihat anaknya akan cenderung terhambat proses berpikirnya yang selanjutnya harus menghadapi masa pendidikan yang tidak terlalu cerah, anak bisa menjadi agressiv dan sulit untuk diarahkan, tidak bisa menerima pendapat orang lain, dan sering melakukan hal-hal yang merugikan diri sendiri  dan sekitarnya tanpa dipikirkan terlebih dahulu.

Jadi bila rumah mempunyai lingkungan yang menggairahkan, dimana anak diperbolehkan untuk mengeksperimenkan rasa keingintahuannya, serta tidak selalu mendengar kata-kata “ Hey,Itu jangan, atau Itu tidak baik, jangan nakal ya! Atau ayo duduk yang manis ! Malu tuh sama tetangga, atau eh, itu tidak boleh” maka anda telah membantu anak anda dalam meningkatkan kognisi/kecerdasan anak anda.

Dan tolong, jangan hanya melihat pada perkembangan intelektual anak anda, tapi buatlah hubungan yang lebih erat dengan anak anda, nikmati hubungan anda dengan anak anda apapun dia. Jangan terlalu menekan atau memaksa anak untuk belajar sesuatu, tapi arahkan anak anda untuk lebih mengenal konsep-konsep kehidupan dan lingkungannya. Sehingga anda bisa membuktikan pada anak anda, bahwa anda merupakan guru yang pertama dan terbaik untuk anak anda.

Jakarta, 14.11.2001
Ratih Gandasetiawan, SphyT
Ahli Perkembangan Anak

Perpustakaan:

Paul Mussen, Einfuehrung in die Entwicklungspsychologie,Juventa verlag Muenchen,1974.
Burns-Roe-Roos, Teaching Reading in today’s Elementary schools, Hougton Mifflin Company Boston,fourth edition
Dr. Paul Suparno, Teori perkembangan Kognitif Jean Piaget, Penerbit Kanisius, Jogjakarta,2001
Inge Flehmig, Normale Entwicklung des Saeuglings und Ihre abweichungen, Thieme verlag, Stutgart,1979
Theodor Hellbruegge, Frits Lajosi, Dora Menara, Reglindis Schamberger, Thomas Rautenstrauch, Fortschritte der Sozialpaediatrie 4, Hansisches Verlagkontor Luebeck,1985.
Ernst J. Kiphard and Alfred Leger, Basic Psycho-motor Education Floettmann Verlag, 4830 Guetersloh, Auflage 1986.
Prof. Dr. Frans Decker und Brigitte Baecker, Kinesiologie mit kindern
Urania-Ravensburger,1998

Article :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Apa komentar dan pendapat anda? Adakah saran untuk admin?

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Comment Facebook

Get This Gadget

Popular Posts

Ready 3 Data AON

Followers